
Kini Joko Pekik diajak berbicara mengenai Kebangsaan..sebenarnya bagaiman pendapat Joko Pekik mengenai keberadaan negara saat ini? Hal ini disampaikan dalam dialog 30 Menit refleksi Kebangkitan Nasional di Jogja TV.
Apa pandangan awalnya terkait Kebangkitan Nasional? Tanpa panjang lebar dirinya mengatakan bahwa Pancasila saat ini semakin menipis, tidak ada namanya gotong royong di setiap perkotaan, gotong royong masih terjadi di pedalaman saja. Bagaimana bisa pancasila ini diterapkan di jaman saat ini, sementara penguasa kita sulit disebut sebagai Pancasila karena mereka masih mementingkan kepentingan sendiri. “Saya salut dengan para leluhur kita...mereka mampu menggerakan dan melahirkan sebuah Kebangkitan Nasional yang hingga kini masih dapat kita rayakan”
Coba kita lihat 100 tahun lalu, semangat revolusi itu selalu digembar-gemborkan setiap lewat dan menyapa saudara dan tetangga-tetangganya selalu mengatakan “merdeka bung..merdeka bung” kini apa yang kita lihat, ungkapan-ungkapan seperti itu tidak lagi muncul di benak kita. “ya karena mentang –mentang sudah berkuasa tidak ada lagi ungkapan seperti itu” Bahkan Kemerdekaan Indonesia kita ini dulunya diakal-akali oleh Pemerintahan Orde Baru melalui kekuasaannya sehingga tidak terasa Indonesia ini sudah merdeka selama 63 tahun.
Joko masih teringat akan kenangan-kenangan masa perjuangan saat itu, dulunya ada semangat masyarakat untuk bersatu untuk mengalahkan para penjajah Indonesia. Peristiwa G30S 1965, yang membuat PKI tertuding sebagai pelakunya, mengakibatkan banyak kader PKI dan ormas-ormasnya, termasuk Lekra, ditangkap dan dipenjarakan. Djoko sendiri ditahan dari 8 November 1965 sampai 1972 di Penjara Wirogunan, Yogyakarta. “Selama di penjara, saya vakum melukis,” katanya. Ia merasa masih beruntung tidak mati karena kelaparan dan siksaan, sampai kupingnya agak budek karena sering dipukul dengan popor senjata. Selepas dari penjara, bahkan sampai 1990, ia masih dikucilkan oleh saudara, tetangga, dan sesama seniman yang berhaluan lain.
“Sebenarnya Indonesia ini terlalu cantik, manis..karena terlalu cantik dan manisnya Negara kita ini menjadi negara adikuasa oleh negara asing. Segala Sumber Daya Alam di Negeri ini hampir dikuasai, dibeli oleh negara tetangga”
...
Bagaimana dengan inspirasi Indonesia sendiri? Joko Pekik justru mengatakan bahwa “Inspirasi negara kita ini tidak murah. Hanya Pelukis saja yang melesat dari negara kita ini untuk dunia...kita lihat saja begitu banyak pelukis di Dunia ini Go International termasuk Indonesia. Jadi negara kita ini sudah mempunyai nama di tingkat Internasional”
Lukisan “Berburu Celeng”
Lukisan PELUKIS Djoko Pekik memang sangat piawai membaca momentum. Ketika mantan Presiden Soeharto tumbang dari tampuk kepemimpinan dan bergulirnya reformasi, secara simbolik, Djoko Pekik membuat lukisan 'Berburu Celeng'. Dengan segala tafsir politik karya tersebut menjadi bahan pembicaraan heboh, hubungan politik dengan seni rupa saat itu.
Lukisan berjudul Raja Celeng dibuat pada 1996. Sebuah lukisan sebagai idiom seorang raja atau penguasa yang rakus. Di lukisan itu dia menggambar 100 celeng. "Celeng itu biasa makan apa saja, menabrak apa saja, tak memedulikan sekitarnya. Celeng itu simbol keangkaramurkaan penguasa."
Karya berikutnya berjudul Indonesia 1998 Berburu Celeng (1998). Lukisan ini dibuat Djoko saat rezim Orde Baru digoyang. Sebuah lukisan yang menggambarkan bagaimana semua orang beramai-ramai memburu celeng. Bahkan, setelah ditangkap celeng itu pun dikeler bersama-sama pula.
Lukisan itu pertama dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta (TBY). Itu pun hanya satu hari: 17 Agustus 1998. "Karena kebetulan gedung itu kosong hanya pas hari itu saja," katanya.
Lukisan ketiga dia beri judul Matinya Celeng (1999), Tanpa Bunga dan Telegram Duka Cita 2000. Inilah gambaran kisah tragis seekor celeng. Celeng yang matinya terhina. Diburu banyak orang dan bahkan digebuki sampai mati. Menurut Djoko Pekik, sampai saat ini celeng-celeng itu masih ada. Bahkan jumlahnya makin banyak dan merajalela. "Makin maraknya kasus korupsi adalah
buktinya. Juga para pemimpin bangsa yang sudah tidak memperhatikan rakyatnya lagi," katanya bersemangat. (red..Har)
Affandi Koesoema (Cirebon, Jawa Barat, 1907 - 23 Mei 1990) adalah seorang pelukis yang dikenal sebagai Maestro Seni Lukis Indonesia, mungkin pelukis Indonesia yang paling terkenal di dunia internasional, berkat gaya ekspresionisnya yang khas. Pada tahun 1950-an ia banyak mengadakan pameran tunggal di India, Inggris, Eropa, dan Amerika Serikat. Pelukis yang produktif, Affandi telah melukis lebih dari dua ribu lukisan.
AFFANDI (1907 – 1990)
Lukisan Affandi yang menampilkan sosok pengemis ini merupakan manifestasi pencapaian gaya pribadinya yang kuat. Lewat ekpresionisme, ia luluh dengan objek-objeknya bersama dengan empati yang tumbuh lewat proses pengamatan dan pendalaman. Setelah empati itu menjadi energi yang masak, maka terjadilah proses penuangan dalam lukisan seperti luapan gunung menuntaskan gejolak lavanya. Dalam setiap ekspresi, selain garis-garis lukisanya memunculkan energi yang meluap juga merekam penghayatan keharuan dunia bathinnya. Dalam lukisan ini terlihat sesosok tubuh renta pengemis yang duduk menunggu pemberian santunan dari orang yang lewat. Penggambaran tubuh renta lewat sulur-sulur garis yang mengalir, menekankan ekspresi penderitaan pengemis itu. Warna coklat hitam yang membangun sosok tubuh, serta aksentuasi warna-warna kuning kehijauan sebagai latar belakang, semakin mempertajam suasana muram yang terbangun dalam ekspresi keseluruhan.
Namun dibalik kemuraman itu, vitalitas hidup yang kuat tetap dapat dibaca lewat goresan-goresan yang menggambarkan gerak sebagian figur lain. Dalam konfigurasi objek-objek ini, komposisi yang dinamis. Dinamika itu juga diperkaya dengan goresan spontan dan efek-efek tekstural yang kasar dari plototan tube cat yang menghasilkan kekuatan ekspresi.
Pilihan sosok pengemis sebagai objek-objek dalam lukisan tidak lepas dari empatinya pada kehidupan masyarakat bawah. Affandi adalah penghayat yang mudah terharu, sekaligus petualang hidup yang penuh vitalitas.Objek-objek rongsok dan jelata selalu mengguha empatinya. Oleh karenanya, ia sering disebut sebagai seorang humanis dalam karya seninya. Dalam berbagai pernyataan dan lukisannya, ia sering menggungkapkan bahwa matahari, tangan dan kaki merupakan symbol kehidupannya. Matahari merupakan manifestasi dari semangat hidup. Tangan menunjukkan sikap yang keras dalam berkarya dan merealisir segala idenya. Kaki merupakan untkapan simbolik dari motivasi untuk terus melangkah maju dalam menjalani kehidupan. Simbol-simbol itu memang merupakan kristalisasi pengalaman dan sikap hidup Affandi, maupun proses perjalanan keseniannya yang keras dan panjang. Lewat sosok pengemis dalam lukisan ini, kristalisasi pengalaman hidup yang keras dan empati terhadap penderitaan itu dapat terbaca.
Pengemis / The Begger (1974)
Cat minyak di atas kanvas / Oil on canvas, 99 x 129 cm, Inv. 678/SL/C
Raden Saleh Sjarif Boestaman (Semarang, 1807[1] - Buitenzorg, 23 April 1880) adalah salah seorang pelukis paling terkenal dari Indonesia.

Masa kecil
Ibunya bernama Mas Adjeng Zarip Hoesen, tinggal di daerah Terbaya, dekat Semarang. Sejak usia 10 tahun, ia diserahkan pamannya, Bupati Semarang, kepada orang-orang Belanda atasannya di Batavia. Kegemaran menggambar mulai menonjol sewaktu bersekolah di sekolah rakyat (Volks-School).
Keramahannya bergaul memudahkannya masuk ke lingkungan orang Belanda dan lembaga-lembaga elite Hindia-Belanda. Seorang kenalannya, Prof. Caspar Reinwardt, pendiri Kebun Raya Bogor sekaligus Direktur Pertanian, Kesenian, dan Ilmu Pengetahuan untuk Jawa dan pulau sekitarnya, menilainya pantas mendapat ikatan dinas di departemennya. Kebetulan di instansi itu ada pelukis keturunan Belgia, A.A.J. Payen yang didatangkan dari Belanda untuk membuat lukisan pemandangan di Pulau Jawa untuk hiasan kantor Departemen van Kolonieen di Belanda. Payen tertarik pada bakat Raden Saleh dan berinisiatif memberikan bimbingan.
Payen memang tidak menonjol di kalangan ahli seni lukis di Belanda, namun mantan mahaguru Akademi Senirupa di Doornik, Belanda, ini cukup membantu Raden Saleh mendalami seni lukis Barat dan belajar teknik pembuatannya, misalnya melukis dengan cat minyak. Payen juga mengajak pemuda Saleh dalam perjalanan dinas keliling Jawa mencari model pemandangan untuk lukisan. Ia pun menugaskan Raden Saleh menggambar tipe-tipe orang Indonesia di daerah yang disinggahi.
Terkesan dengan bakat luar biasa anak didiknya, Payen mengusulkan agar Raden Saleh bisa belajar ke Belanda. Usul ini didukung oleh Gubernur Jenderal Van Der Capellen yang memerintah waktu itu (1819-1826), setelah ia melihat karya Raden Saleh.
Tahun 1829, nyaris bersamaan dengan patahnya perlawanan Pangeran Diponegoro oleh Jenderal de Kock, Capellen membiayai Saleh belajar ke Belanda. Namun, keberangkatannya itu menyandang misi lain. Dalam surat seorang pejabat tinggi Belanda untuk Departemen van Kolonieen tertulis, selama perjalanan ke Belanda Raden Saleh bertugas mengajari Inspektur Keuangan Belanda de Linge tentang adat-istiadat dan kebiasaan orang Jawa, Bahasa Jawa, dan Bahasa Melayu. Ini menunjukkan kecakapan lain Raden Saleh
Kartika AffandiBunga Matahari Tanpa Busana
Pelukis perempuan tanpa busana ini menggelar pameran tunggal bertajuk Menengok Perjalanan Kehidupan. Sejumlah lukisan putri maestro Affandi, ini merekam suasana kejiwaan dan perjalanan hidupnya. Mulai dari pemandangan tubuh perempuan tanpa busana, sampai wajah yang teralingi kawat berduri dan "potret diri" berupa tanaman bunga matahari lengkap dengan kembangnya yang mekar.
Tak mudah menjadi anak seorang Affandi. Gaya ungkap empu seni lukis Indonesia itu, yang diakrabinya sejak usia dini, kelak membayangi kanvas-kanvasnya sendiri. "Saya tak mau menjadi papi ke-2," tutur Kartika menyebut ayahnya dengan panggilan "papi".
Dorongan Affandi yang mengatakan bahwa kekuatannya justru pada dirinya yang perempuan telah membukakan jalan. Garis-garisnya kemudian lebih lembut dan terbukti ia lebih teliti. Ia juga sering memilih obyek yang khas seperti hewan menyusui.
"Ketika papi mengatakan: kamu telah menemukan diri sendiri, saya seperti terlepas dari beban," tutur Kartika, di tengah ruang pamerannya di Galeri Nasional di Jakarta, yang peresmiannya pada Kamis (28/10/2004) malam begitu meriah.
Di dalam pameran lukisan untuk menyongsong usianya yang ke-70 itu, ia menyajikan karya-karya penting sepanjang empat dekade kariernya. Boleh dikata, itu juga versi visual dari cuplikan hidupnya yang penuh drama.
Kartika dua kali menikah. Pernikahannya yang pertama dengan RM Saptohoedojo pada tahun 1952 berujung dengan perceraian pada tahun 1972 sesudah mendapat delapan anak. Ia menikah untuk kedua kalinya pada tahun 1985 dengan Gerhard Koberl, seorang warga Austria, namun bercerai tahun 2000.
Sejumlah lukisannya merekam suasana kejiwaan yang ia alami, sejak pemandangan tubuh yang meruyak, sampai wajah yang teralingi kawat berduri. Di dalam sebuah lukisan yang disebutnya "potret diri", ia menggambar tanaman bunga matahari lengkap dengan kembangnya yang mekar.
"Itu memang saya. Saya senang bunga matahari karena batangnya bisa sangat besar, tetap tegak walau agak doyong, dan bunganya selalu menantang, menghadap matahari," kata Kartika. "Di sisi lain, itu ada bunga matahari lain yang kecil, yang menjauh dari saya, itu Mas Sapto…."
Potret diri yang khas ini rupanya bagian akhir pernikahan pertamanya. Ia menambahkan, "Saya tidak ada dendam lho, wong saya sampai sekarang yang mengurus kuburan Mas Sapto."
Mungkin itu sebabnya ia memajang sebuah lukisan potret mantan suami tersebut di dalam pameran. Katanya, ia mengoleksi barang tiga buah lukisan tentang seniman yang kondang oleh kemampuan artistik sekaligus keahlian dagangnya ini.
Sesudah bercerai, praktis Kartika mendapat dukungan penuh dari ayahnya. Ia menuturkan, "Waktu itu enggak ada modal, ya cat, ya kanvas, jadi ikut papi. Ke mana-mana saya ikut melukis."
Seperti ayahnya, Kartika menghabiskan waktu hanya di dalam hitungan jam, terkadang kurang dari tiga jam, untuk membuat lukisan. Ia juga menggunakan tangan dan jari-jarinya untuk menorehkan cat ke permukaan bidang gambar, merasakan sentuhannya, dan tidak teraling oleh alat seperti kuas.
Ayah dan anak ini sangat suka melukis langsung di tempat, di luar rumah. Kegiatan seperti ini, yaitu bepergian dan mendapatkan obyek menarik, termasuk para model, terus dilakukannya. Ia melakukan perjalanan ke berbagai daerah, juga ke berbagai negara untuk menemukan lingkungan dan suasana yang khas, yang cocok dengan perasaannya. Sebagian dari hasilnya ia pamerkan, seperti pemandangan sebuah warung kopi di Prambanan, potret dirinya di tengah salju, Tembok Besar di China, sebuah kampung di Penang, Malaysia, atau di Thailand.
Kartika lahir di Jakarta, 27 November 1934, sebagai anak tunggal dari pasangan Affandi dan Maryati. Pada usia dini ia ikut hidup "menggelandang". Konon ia sempat ikut tidur hanya beratapkan papan reklame. Di tengah tidur lelap, keluarga ini harus selalu siap kalau tiba-tiba jatuh hujan dan segera menggulung tikar. Tidur dilanjutkan kalau hujan sudah reda. Mereka mandi dan buang air di WC sebuah gedung bioskop.
Pendidikan formalnya hanya sampai kelas 1 SMP Taman Dewasa Taman Siswa Jakarta pada tahun 1949. Ia kemudian belajar di Universitas Tagore di Shantiniketan di India sebagai mahasiswa luar biasa berkat beasiswa dari Pemerintah India. Ia juga pernah belajar seni patung di Polytechnic School of Art di London. Tahun 1980 ia belajar teknik pengawetan dan restorasi benda seni di Wina, Austria, yang dilanjutkannya di Roma. Kini ia memang salah satu restorator lukisan di Indonesia.
Menjadi restorator lukisan sangat menghabiskan waktu. Kartika mengaku menekuninya untuk membalas budi orangtuanya, untuk merawat lukisan-lukisannya.
"Apa yang bisa saya berikan kepada mereka? Mobil punya, rumah punya lebih hebat daripada saya," tutur peraih berbagai penghargaan dari sejumlah negeri ini. Yang terbaru adalah gelar doktor honoris causa dari Northern California Global University yang ia ceritakan dengan cukup bersemangat.
Hubungan dengan orangtuanya cukup dekat. Tak banyak dijumpai lukisannya tentang Maryati, tetapi ia cukup sering menggambar Affandi, yang dianggapnya selalu memberi dorongan untuk terus maju.
Katanya sang papi memberinya nama "Kartika" karena itu adalah nama bintang yang tetap bersinar walaupun langit tengah mendung. Itu dianggapnya sebagai harapan agar ia juga tetap bersinar menghadapi hidup yang sukar. Semangat ayahnya ini ia rasakan terus mendorongnya bahkan sampai di usia senja kini.
"Itu sebabnya wajah papi mengisi bulatan matahari di lukisan saya, sedangkan saya bunga mataharinya. Papi terus memberi semangat agar saya tetap kuat sesudah dua kali pernikahan saya gagal," kata Kartika, yang di tengah percakapan didatangi oleh cucu-cucunya untuk sekadar memberi salam. Seluruhnya, ia memiliki 19 cucu dan lima buyut.
Di usia senja ia masih bersemangat untuk terus melukis. Tahun ini ia sudah menghasilkan sekitar 30 lukisan, yang ia siapkan untuk pameran berikut. Ia juga merancang sebuah museum seni di kompleks rumahnya yang asri di tanah seluas satu hektar di kawasan Pakem, Yogyakarta. Untuk pengisi museum itu, kini ia sudah menyimpan sekitar 700 lukisannya, namun ia berpikir untuk memberi tempat pada karya sejumlah pelukis wanita lain.
Kartika cukup sering terlibat di dalam kegiatan sosial. Ia antara lain telah mendirikan Yayasan Karnamanohara yang mengelola sebuah sekolah tunarungu. "Saya ingin berbagi...," katanya. ►e-ti/efix mulyadi {Kompas Senin, 1 November 2004}
Jawa Pos Sabtu, 30 Okt 2004,
70 Tahun Kartika Affandi
Perempuan tanpa busana itu telentang santai di sebuah pembaringan. Tangan kirinya menyilang di bawah bantal yang mengganjal kepalanya. Matannya melirik sosok perempuan lain yang sedang duduk santai di depannya. Pada tubuh perempuan yang tengah duduk ini juga tak terlihat sehelai benang pun. Sepertinya kedua perempuan ini tengah tenggelam dalam obrolan santai.
Sosok dua perempuan ini muncul dalam lukisan karya Kartika Affandi yang dipamerkan dalam pamern tunggalnya yang bertajuk Menengok Perjalanan Kehidupan. Lukisan berjudul Dialogue berukuran 150 x 120 cm ini menjadi salah satu dari 122 karya yang dipamerkan di Galeri Nasional hingga 6 November 2004. Pameran yang juga menjadi penanda usia 70 tahun Kartika ini sekaligus menjadi semacam rekaman perjalanan seni lukis putri seorang maestro Indonesia.
"Karya-karya yang ada dalam pameran ini saya buat sejak 1957 hingga 2003," terang Kartika. Putri Affandi ini yang kini telah memiliki 19 cucu dan lima cicit ini menyatakan emosi menjadi pemompa semangatnya dalam melukis. "Lukisan-lukisan saya selalu dipengaruhi oleh apa yang terjadi di sekitar saya."
Keterlibatan emosi ini menjadi syarat penting bagi Kartika saat berkarya. Sesosok wajah sedih atau sebuah suasana di tengah pasar bisa saja menjadi sumber inspirasinya asalkan melibatkan emosinya.
Selama terjun dalam dunia seni rupa, Kartika dikenal dengan gaya yang sama dengan ayahnya, ekspresionisme. Bukan itu saja, teknik melukis khas Affandi dengan cara langsung menorehkan cat dari tube-nya juga dilakukan oleh Kartika. Hasilnya, muncullah lukisan-lukisan yang sangat mirip dengan karya Affandi.
Kartika mengakui keterpengaruhan itu. Dia tak menganggapnya masalah. Kendati begitu, Kartika mengaku masih terus berusaha bisa lepas dari bayang-bayang ayahnya. Salah satu usaha untuk lepas dari bayang-bayang Affandi ini adalah menggunakan warna hitam putih saja pada 1973. Namun, cara ini akhirnya dia tinggalkan.
Pameran ini menyuguhkan karya-karya yang sangat beragam dan menarik. Mulai dari lukisan-lukisan yang menyajikan pemandangan alam hingga yang lebih bersifat retrospektif. Tengok saja salah satu karya Kartika yang berjudul Rebirth. Lukisan berukuran 132 x 132 cm karya tahun 1981 ini tidak sekadar menampilkan kematangan teknik "pencet tube". Dalam lukisan ini Kartika menghadirkan sosok kepala manusia yang menyembul dari selangkangan seorang perempuan. Kemunculan kepala dengan wajah murung ini sekilas mirip dengan proses kelahiran seorang bayi.
"Lukisan ini adalah lambang dari apa yang tengah saya alami waktu itu. Saat itu saya benar-benar merasa seperti telah dilahirkan kembali," terang Kartika sembari berbagi cerita mengenai masa-masa sulit yang berhasil ia lewati kala itu. Selain menampilkan karya lukisan, pameran ini juga memajang karya litografi.
"Sebenarnya, saya banyak membuat karya litografi. Namun, dalam pameran ini hanya satu yang dipamerkan," jelas Kartika. (tir)
Suara Merdeka Sabtu, 4 Januari 2003
Berobsesi Punya Galeri Pribadi
KETENARAN nama pelukis seperti Kartika Affandi agaknya tidak terlepas dari nama besar ayahnya, maestro pelukis Affandi. Tetapi sebenarnya mungkin itu cuma kebetulan, sebab sosok Kartika sejak muda pun sudah berprestasi. Pada 1968, misalnya, dia meraih penghargaan berupa beasiswa dari Pemerintah Prancis.
Dua belas tahun kemudian, 1980, Konservator Museum Affandi ini mendapat "Gold Medal" dari Academica Italia, dan 1983 mendapat AUREA Gold Medal dari International Parliament for Security and Peace USA.
Pada 1984, putri pelukis Affandi ini memperoleh beasiswa dari ICCROM, berikutnya tahun 1985 meraih Master of Painter dari Youth of Asian Artist Workshop, pada 1991 mendapat penghargaan Outstanding Artist dari Mills College at Oakland California.
Penghargaan terakhir, pada Desember 2002 memperoleh penghargaan "The Best Indonesian Professional Award" dari Forum Wartawan Independen Jawa Tengah (Forwija). Pada malam penganugerahan ini, lukisannya dibeli kolektor Budi Setiawan seharga Rp 34 juta.
Usianya boleh merambat tua, tetapi untuk mewujudkan obsesinya memiliki galeri pribadi, tidak pernah surut, meski sebetulnya tempat pameran atau galeri yang sekarang ada (milik Affandi-Red) sudah sesuai dan pas untuk disajikan kepada pengunjung atau kolektor.
"Saya ingin sebuah tempat untuk pameran secara pribadi, sebab tempat ini kan milik Bapak. Saya punya tanah di Pakem. Kalau Tuhan menghendaki, pasti ada jalan keluar," kata wanita pelukis yang pertama berpameran bersama wanita pelukis lain di Yogyakarta pada 1957. (ant-29t)
***
Suara Pembaruan, 1 November 2004
Menengok Perjalanan 70 Tahun Pelukis Kartika Affandi
ME AND THE DANCER - Salah satu lukisan Kartika Affandi berjudul "Me and the Dancer" menunjukkan kecenderungannya menggarap potret diri. Sekitar 100 karya lukis Kartika dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia Jl Medan Merdeka Timur No 14 , Jakarta Pusat, hingga 6 November 2004.
Tak banyak orang tahu, kapan seorang Kartika memutuskan menjadi pelukis. Ide mengikuti jejak sang ayah, Affandi, nyaris tak terpikirkan. Tetapi komentar sinis mantan suaminya, Saptohoedojo, justru melecut semangatnya. Kini sudah hampir 50 tahun Kartika berkarya.
Itulah salah satu cerita di balik pameran tunggal Kartika Affandi. Pameran yang diberi tema Menengok Perjalanan Hidup Kartika Affandi (Looking Back Through Life) ini berlangsung di Galeri Nasional Indonesia, Jl Medan Merdeka Timur 14, Jakarta Pusat, hingga 6 November 2004. Acara ini digelar sekaligus dalam rangka ulang tahun Kartika yang jatuh pada 27 November.
"Inilah saatnya bagi masyarakat Indonesia untuk memperoleh kesempatan melihat dan mengkaji lukisan-lukisan yang telah saya buat sekitar tahun 1957 sampai saat ini. Pameran ini merupakan sebuah perjalanan panjang dalam kehidupan berkesenian saya dan tidak pernah terlepas dari pengaruh, baik dari dalam maupun luar kehidupan keluarga. Satu tantangan besar bagi saya untuk berada di bawah bayang-bayang nama besar Affandi yang merupakan ayah, guru dan teman sejak awal karier saya," kata Kartika.
Dalam katalog pameran yang ditulis Ajip Rosidi, Kartika dikisahkan pernah kecewa dengan komentar suami, Saptohoedojo. Lukisan Kartika diragukan dapat menarik minat kolektor. Alih-alih, sang suami malah menyarankan untuk berganti aliran, agar lebih bernilai komersial. Tetapi Kartika menolak dan tetap melukis menurut kehendak hatinya.
Meskipun menulis cerita itu, Ajip pun juga tak begitu yakin siapakah yang mengisahkan tentang awal karier Kartika sebagai pelukis. Tetapi Ajip setidaknya menyebut cerita itu berasal dari Affandi atau Kartika sendiri. Sekurangnya, sejak kejadian itu, Kartika akhirnya memutuskan untuk terus menekuni seni lukis.
Menurut Ajip, Kartika memang nyaris identik dengan sang ayah, Affandi. Dalam hal gaya, bepergian, dan melukis diri. Tetapi Kartika punya kebebasan besar untuk berekspresi.
Affandi tampaknya memang tak pernah memaksakan Kartika untuk membuat lukisan komersial. Mungkin itulah yang menjelaskan mengapa gaya Kartika lebih dekat dengan Affandi daripada Saptohoedojo, mantan suaminya.
Beberapa kesamaan juga dikenali Ajip dari Kartika dan Affandi. Pasangan anak dan bapak itu sama-sama gemar bepergian dan mengunjungi tempat baru. Keduanya gemar melukis di lapangan dan berhadapan muka dengan objek.
Tetapi lukisan Kartika tak memunculkan penderitaan kemanusiaan seperti lukisan Affandi. Soal potret diri yang juga menjadi kemiripan, Kartika tampak lebih menonjolkan pengalaman batinnya. Sementara Affandi lebih suka melukis dirinya saat sedang beraktivitas tertentu.
Kartika juga tak sungkan menumpahkan perasaan hatinya di atas kanvas. Tak heran, muncullah lukisan-lukisan bertema sentimental dan personal. Hal itu tergambar dari sejumlah judul lukisan seperti, Self Potrait and Disappointment, My Head's Broken dan I'm Half Dead.
"Saya menumpahkan berbagai bentuk kemarahan, kekhawatiran , rasa sakit, kesedihan dan juga kebahagiaan yang saya alami dan segala sesuatu yang terjadi di sekitar saya ke atas kanvas. Hal-hal lain yang mempengaruhi kesan di sekitar subyek lukisan saya adalah kejujuran, spontanitas dan keterbukaan yang dapat memberikan perubahan suasana," ujar wanita kelahiran Jakarta ini.
Menurut Kartika, rekaman kehidupan seperti itu memiliki nilai yang tinggi dan mungkin tidak ada kesempatan kedua untuk menangkapnya. Melukis bagi Kartika merupakan cermin jiwa yang tidak akan terpuaskan dengan apa yang telah dipelajarinya. Kartika mencoba menapak selangkah demi selangkah dalam perjalanan kehidupan dan mencari kejujuran yang akan mengekspresikan kebenaran.
Dalam pameran ini, seperti tulisan Amir Sidharta dan Farah Wardhani, karya-karya Kartika terbagi dalam empat bagian. Antara lain, Wajah-wajah Akrab, Kehidupan, Tempat dan Potret Diri. Tema-tema itu terwakili beberapa judul lukisan seperti, My Father on Peddycab, A Fisherman Takes a Rest, A Coffe Shop in Prambanan Market, dan Self Potrait and Goat for Offering.
"Saya melukis dengan senang hati. Dengan rasa cinta. Contohnya lukisan Self Portrait and Goat for Offering. Waktu itu minggu Idul Adha, saya melihat kambing kurban yang hendak dipotong. Andaikan saya menjadi kambing seperti apa rasanya hendak dipotong dan kepanasan. Sejak dulu, saya percaya kelahiran kembali," cerita Kartika kepada wartawan sebelum membuka pameran.
Di usianya yang kian senja, Kartika masih menyimpan satu obsesi besar. Dia berencana mendirikan sebuah museum seni lukis di daerah, Pakem, Yogyakarta. Soal tempat sudah siap, tetapi dia masih menunggu izin dari pemda setempat. Kelak, museum tersebut diperuntukan khusus karya-karya pelukis wanita.
"Coba bayangkan berapa banyak museum lukisan? Tetapi semuanya punya pelukis laki-laki. Mana ada museum untuk perempuan? Kalau saya sebagai pelukis perempuan lalu siapa yang akan memikirkan dan berbuat? " katanya retoris.
Basoeki Abdullah (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 25 Januari 1915 – meninggal 5 November 1993 pada umur 78 tahun) adalah salah seorang maestro pelukis Indonesia. Ia dikenal sebagai pelukis aliran realis dan naturalis. Ia pernah diangkat menjadi pelukis resmi Istana Merdeka Jakarta dan karya-karyanya menghiasi istana-istana negara dan kepresidenan Indonesia, disamping menjadi barang koleksi dari berbagai penjuru dunia.
Basuki_abdullah_kakakdanadik.gif (300 × 371 piksel, ukuran berkas: 62 KB, tipe MIME: image/gif)
